Orientasi K3 Dalam Masyarakat Industri - Ruang Pendidikan

Orientasi K3 Dalam Masyarakat Industri

Orientasi K3 Dalam Masyarakat Industri

Memasyarakatkan dan membudayakan keselamatan dan kesehatan kerja adalah untuk menyadarkan masyarakat pentingnya K3 dalam tata kehidupan bermasyarakat. Kampanye nasional K3 memberikan pesan khususnya kepada masyarakat industri bahwa setiap tema memiliki makna dan peran besar dalam mengelola industrinya. Pola gerakan nasional membudayakan K3 dimaksudkan agar semua pihak yang terlibat didalamnya dapat menggunakannya sebagai pedoman pokok dalam upaya pembudayaan dan pelestarian keselamatan dan kesehatan kerja.

Pembangunan ketenagakerjaan diarahkan kepada pembentukan tenaga professional yang handal, mandiri, beretos kerja dan produktif. Dalam pembangunan ketenagakerjaan perlu dilakukan pembinaan pengembangan perbaikan syarat kerja, serta perlindungan tenaga kerja terhadap sistem hubungan industrial Pancasila.

Penerapan ilmu dan teknologi bukan tanpa resiko dan membutuhkan tenaga ahli dan terampil, tanpa tenaga kerja yang berkualitas dengan peralatan semakin canggih justru menimbulkan kesulitan dan dapat membahayakan tenaga kerja.

Masalah K3 tidak bisa dikesampingkan dan ternyata bukan masalah kecil akibat ditimbulkannya menjadi kerugian cukup besar.

1. K3 dalam Aspek Kehidupan di Masyarakat
Keputusan MENAKER RI Nomor : KEP.462/93 tanggal 21 Desember tentang Pola gerakan Nasional Membudayakan K3 dan UU Nomor 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja memberikan petunjuk bahwa berbagai pihak menyadari pentingnya K3 mutlak dilaksanakan dalam beraktivitas kerja.

Ke depan di dalam program pola gerakan nasional membudayakan K3 memberikan arah terciptanya kehidupan bermasyarakat dalam berbagai aktivitasnya terbebas dari segala ancaman kecerobohan dan kelalaian di lingkungan kerjanya.

Membudayakan K3 dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa berarti menumbuh kembangkan prakasa dalam kegiatan K3 secara arif dan melaksanakan pekerjaan didasarkan kaidah manusiawi. Ruang lingkup K3 di garis tetap berada di semua lini kegiatan baik di sektor formal ataupun di sektor non formal, sebab potensi ancaman bahaya kecelakaan mengancam dimanapun berada. Banyak contoh yang bisa diambil misalnya di sektor pertanian, perkebunan akibat penggunaan pestisida, kemudian di perhubungan darat sejumlah kecelakaan kendaraan, kecelakaan di wilayah perairan, di media massa dapat dibaca betapa kejamnya kecelakaan akibat tidak memperdulikan K3. Memang benar K3 sangat erat hubungannya dengan sikap dan perilaku manusia di samping ketidaktahuan makna K3 dalam kehidupan. Ketiga tema diatas sudah memberikan gambaran betapa pentingnya K3 dalam kehidupan di masyarakat.

2. K3 dalam Aspek Masyarakat Industri

Kampanye K3 yang terpasang setiap tahun bisa disimak dengan seksama bahwa K3 merupakan pedoman yang tepat dalam kehidupan di masyarakat industri. 
  • Jadikanlah Keselamatan dan Kesehatan Kerja sebagai Naluri Kehidupan Budaya Bangsa. (Tema K3 tahun 1991)
  • Pemantapan Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja melalui budaya kerja yang Disiplin Mandiri dan Produktif untuk menjamin pekerjaan yang layak. (Tema K3 tahun 2005)
  • Gelorakan Gema Daya K3 dalam Kehidupan bermasyarakat. (Tema K 3 tahun 2000) 
UU K3 menyatakan di setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan kerja atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan dan meningkatkan produksi dan produktivitas nasional. Setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja perlu terjamin pula keselamatannya. Pada setiap sumber produksi perlu untuk dipergunakan secara aman dan efisien. Maka dari itu perlu diadakan segala daya upaya untuk membina norma-norma perlindungan kerja. Pembinaan pada norma-norma itu perlu untuk diwujudkan dalam UU yang memuat ketentuan-ketentuan umum tentang keselamatan kerja yang sesuai dengan perkembangan masyarakat industrialisasi, teknik dan teknologi.

Kampanye nasional K3 diawali tahun 1984 sudah mendapat tanggapan positif dari masyarakat industri, ini menunjukkan bahwa pabrik dan perusahaan sudah menghayati pentingnya K3 dalam kegiatan proses produksi. Kalangan industri sudah memperlihatkan sikap, semula K3 dianggap sebagai beban, kini sudah beralih bahwa K3 sebagai kebutuhan.

Di samping itu UU nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan kerja menyatakan bahwa kesehatan kerja diselenggarakan untuk mewujudkan produktivitas kerja optimal. Bahwa kesehatan kerja meliputi pelayanan kesehatan kerja, pencegahan penyakit akibat kerja dan syarat-syarat kerja. Bahwa upaya kesehatan kerja diselenggarakan agar setiap tenaga kerja bekerja secara sehat tidak merugikan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya.

Mengingat gerakan nasional K3 adalah bersifat sentral maka strategi pencapaian tujuan harus melalui beberapa pendekatan. Pertama pendekatan wilayah atau regional, melalui pemerintah daerah tingkat satu bersama para asosiasi terkait dan dinas-dinas terkait melakukan seminar, pertemuan terpadu agar pelaksanaan K3 berfungsi baik. Kedua pendekatan sektoral, bahwa setiap instansi sektoral diberi kewenangan dalam membina dan mengelola perusahaan masing-masing, upaya aktif meningkatkan partisipasi K3 dan bekerja sama dengan dinas terkait. Intensif dalam menegakkan hukum menjadikan K3 sebagai kebutuhan essensial di dalam unit produksinya. Ketiga pendekatan akademik, perguruan tinggi relevan dengan visi misi K3 memberikan pelayanan tentang K3, bahwa ke depan para tunas bangsa lebih berperan memimpin perusahaan dengan membawa misi K3 sebagai unsur menentukan. Melalui kajian di dalam lapangan, penelitian,  maka K3 membudayakan di tengah masyarakat.

Dalam era globalisasi yang tengah berlangsung dewasa ini, tertentu membawa perubahan-perubahan yang terus dikembangkan agar peran serta K3 menjadi penilaian prioritas utama. Produktivitas kerja yang semakin baik memberikan aspirasi bahwa kemauan dan kecakapan seseorang diandalkan untuk memenuhi tuntutan perusahaan.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel