Metode Pembelajaran Problem Solving (Pengertian & Langkah-Langkahnya) - Ruang Pendidikan

Metode Pembelajaran Problem Solving (Pengertian & Langkah-Langkahnya)

1. Pengertian Metode Pembelajaran Problem Solving 

Barrow  dalam Miftahul Huda (2014: 271) mengatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah merupakan pembelajaran yang diperoleh melalui proses menuju pemahaman akan resolusi suatu masalah. Menurut Riyanto (2014: 285) pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model pembelajaran yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah. Sedangkan menurut wena (2009: 22) mengemukakan bahwa pemecahan masalah dipandang sebagai suatu proses untuk menemukan kombinasi dari sejumlah aturan yang dapat diterapkan dalam upaya mengatasi situasi baru. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa metode problem solving adalah sebuah metode pembelajaran yang berbasis masalah yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah atau mengatasi situasi baru. 

Metode Pembelajaran Problem Solving (Pengertian & Langkah-Langkahnya)


2. Langkah-Langkah Pelaksanaan Problem Solving 

Prim dan Tabasso (2005:29) menyebutkan bahwa langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran problem solving terdiri dari: (a) define the problem; (b) model the problem; (c) analyze the problem; (d) solve the problem; dan (e) synthesis of the situation. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengidentifikasi masalah yang akan dibahas, kemudian menampilkan atau menampakkan masalah tersebut, lalu menganalisis bagaimana solusi pemecahan masalahnya, melakukan pemecahan masalah, dan mengkaji ulang solusi dari permasalahan tersebut.  Hudojo dan Sutawijaya (2003:43) menjelaskan bahwa langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran problem solving terdiri dari: (a) pemecahan terhadap masalah; (b) perencanaan penyelesaian masalah; (c) melaksanakan perencanaan; (d) melihat kembali penyelesaian. 

Trianto (2007:72) menyatakan bahwa dalam model pembelajaran problem solving, langkah-langkah yang harus dilaksanakan adalah sebagai berikut: (a) orientasi siswa terhadap masalah;  (b) mengorganisasikan siswa untuk belajar; (c) membimbing penyelidikan individual maupun group / kelompok; (d) mengembangkan dan menyajikan hasil karya; (e) menganalisis serta mengevaluasi proses Problem Solving. Langkah pertama yang harus dilakukan oleh guru adalah menjelaskan tujuan pembelajaran, logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa agar terlibat dalam proses pemecahan masalah. Selanjutnya pendidik membantu peserta didik yakni siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut, lalu mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dengan melaksanakan eksperimen. Kemudian guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya. Langkah terakhir adalah guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan. 

Dengan mempertimbangkan tujuan penelitian dan pengembangan media ajar, maka tahap pelaksanaan yang paling sesuai dengan media ajar yang dikembangkan adalah tahap pelaksanaan menurut Trianto. Pelaksanaan model pembelajaran problem solving menurut Trianto memiliki keunggulan dibanding dengan tahap pelaksanaan oleh Prim dan Tabasso. Pencapaian tujuan pembelajaran, bahan yang diperlukan dalam memecahkan masalah, dan motivasi siswa disampaikan dalam proses pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran berjalan sesuai dengan rencana pembelajaran yang disusun. Sedangkan jika dibandingkan dengan tahap pelaksanaan menurut Hudojo dan Sutawijaya, keunggulan tahap pelaksanaan menurut Trianto terlihat pada proses identifikasi masalah. Dalam tahap pelaksanaan menurut Hudojo dan Sutawijaya, tidak terdapat langkah identifikasi masalah sehingga membuat siswa kesulitan dalam menentukan masalah yang akan diselesaikan. Secara umum jika ketiga jenis tahap pelaksanaan tersebut dibandingkan, maka tahap pelaksanaan problem solving menurut Trianto memiliki keunggulan, antara lain: (a) tujuan pembelajaran tercapai dengan baik, karena terdapat tahap identifikasi masalah; (b) suasana kelas lebih kondusif, karena terdapat langkah mengorganisasi siswa; (c) dapat mengetahui keseluruhan persepsi siswa terhadap pelajaran, dengan penyelidikan kelompok maupun individu; (d) dapat mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan, karena setiap kelompok wajib menyajikan hasil karyanya; dan (e) dapat menyamakan persepsi siswa, karena terdapat evaluasi dan refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel