Modul Pelatihan Dasar Calon PNS (HABITUASI) - KONSEPSI PEMBELAJARAN AGENDA HABITUASI - Ruang Pendidikan

Modul Pelatihan Dasar Calon PNS (HABITUASI) - KONSEPSI PEMBELAJARAN AGENDA HABITUASI

Konsepsi Habituasi 

Habituasi secara harfiah diartikan sebagai sebuah proses pembiasaan pada/atau dengan “sesuatu” supaya menjadi terbiasa atau terlatih untuk melakukan “sesuatu” yang bersifat instrisik pada lingkungan kerjanya. 

Mengadaposi pendapatnya Samani dan haryanto (2011:239) tentang habituasi, peserta Pelatihan Dasar Calon PNS dalam pembelajaran agenda habituasi difasilitasi untuk menghasilkan suatu penciptaan situasi dan kondisi (persistence life situation) tertentu yang memungkinkan peserta melakukan proses pembiasaan untuk berperilaku sesuai kriteria tertentu. Penciptaan tersebut diarahkan pada pembentukan karakter sebagai karakter diri ideal melalui proses internalisasi dan pembiasaan diri melalui intervensi (stimulus) tertentu yang akan dilakukan pada pelaksanaan tugas jabatan di tempat kerja. 

Intervensi diciptakan agar bisa memicu timbulnya suatu respon berupa tindakan tertentu yang diawali dari hal-hal kecil atau yang paling mendasar dibutuhkan di tempat kerja, khususnya untuk mendukung pelaksanaan tugas jabatan peserta. Hal-hal kecil atau mendasar yang dimaksud adalah sebagai upaya untuk mendekatkan peserta dengan tuntutan lingkungan kerja, misalnya aktivitas rutin dalam menyelesaikan pekerjaan, kualitas kerja, jam kerja, kedisiplinan, cara dan etika memberikan pelayanan kepada konsumen/tamu/stakeholders, strategi komunikasi dengan sesama pegawai atau dengan pimpinan, situasi atau lingkungan budaya kerja, atau halhal lainnya yang dapat menarik perhatian dan layak dibicarakan/didiskusikan. 

Indikator keberhasilan pembelajaran agenda Habituasi adalah teridentifikasinya suatu kondisi nyata yang terjadi di dalam lingkungan kerja dan secara spesifik terkait dengan tuntutan pelaksanaan tugas jabatannya, sebagai suatu isu yang muncul dan harus dipecahkan. Berdasarkan kondisi tersebut peserta menunjukkan prakarsa kreatif untuk berkontribusi memecahkan isu dengan menginisiasi kegiatan-kegiatan pemecahan isu dan melakukannya secara konsisten, sebagai suatu kebiasaan untuk selalu melakukan aktivitas yang menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan oleh unit/organisasi, stakeholders atau sekurang-kurangnya oleh individu peserta, sehingga terbentuk menjadi karakter dalam mendukung pelaksanaan tugas dan jabatan secara profesional sebagai pelayan masyarakat. 

Faktor-faktor yang berperan dalam menentukan kualitas mengidentifikasi isu adalah kepekaan peserta terhadap tuntutan dan kondisi lingkungan kerja, konsistensi dan keakraban terhadap motif bekerja lebih baik, dan kemampuan peserta menunjukannya ditempat kerja. Untuk menjaga keberlangsungan proses habituasi, sangat disarankan peserta menemukan role model yang akan dijadikan figure atau contoh teladan atau model mirroring. Tidak menutup kemungkinan role model yang ditemukan dan ditetapkan peserta dapat lebih dari satu orang. Terkait dengan hal tersebut di atas, muncul dua pertanyaan besar, yaitu: (1) Siapa yang dimaksud role model tersebut?, maka jawabannya yaitu pegawai atau siapa saja. sosok tokoh yang akan dijadikan panutan sebaiknya adalah orang yang bekerja di unit kerja atau instansi peserta, yang menurut peserta layak menjadi contoh atau teladan berdasarkan materi-materi yang telah dipelajari pada pembelajaran agenda nilai-nilai dasar PNS dan agenda kedudukan dan peran PNS dalam NKRI. 

Pertanyaan selanjutnya adalah (2) apa yang akan ditiru?. jawabannya adalah contoh sikap dan perilaku yang menggambarkan sosok pegawai ideal, yang karena karakter kepribadian dan/atau kompetensinya dalam menyelesaikan pekerjaan mendekati kondisi ideal dan sangat dibutuhkan di tempat kerja, sehingga dipandang layak untuk dijadikan teladan. Memang perlu diakui, bahwa tidak mudah menemukan role model seperti itu, namun peserta harus yakin bahwa akan ada seseorang atau pegawai yang menurut penilaian peserta atau berdasarkan rekomendasi dari pihak tertentu layak untuk dijadikan role model. Hal terpenting yang perlu ditegaskan, siapa pun role model yang akan dipilih, maka dia harus bersifat (eksis) ada dalam kondisi nyata bukan tokoh imaginative terlepas dari berbagai kelemahannya. 

Dalam menetapkan role model, langkah yang harus dilakukan peserta adalah mendalami atau menggali data atau informasi tentang kriteria pegawai tersebut, sehingga layak mendapatkan predikat pegawai yang ideal/terbaik dan layak ditiru. Langkah mendalami atau menggali data atau informasi tentang kriteria pegawai tersebut, penting dilakukan peserta agar dalam menetapkan kriteria atau indikator yang akan ditiru sesuai dengan substansi materi mata pelatihan yang telah dipelajari. Kriteria atau indikator tersebut kemudian dijadikan alat atau kriteria penentu keberhasilan peserta melakukan habituasi bersama partner atau role model yang telah dipilih, disamping pembimbingnya. 

Pentingnya peserta mendapatkan role model yang akan dijadikan partner dalam pembelajaran agenda habituasi dan pentingnya peran role model sebagai partner pembelajaran agenda habituasi, didasarkan atas konsep penelitian yang diadopsi dari teori the power of goals setting dari Locke & Latham (1994). Konsep tersebut digambarkan sebagai berikut: 

Modul Pelatihan Dasar Calon PNS (HABITUASI) - KONSEPSI PEMBELAJARAN AGENDA HABITUASI
Gambar 1 The Power of Goals Setting 

Gambar di atas secara garis besar menunjukkan, bahwa jika peserta memiliki tujuan yang ingin dicapai, kemudian menuliskan tujuan tersebut dalam satu rumusan kalimat yang terukur maka keberhasilan mencapai tujuan sebesar 25-30%, jika kemudian peserta mendiskusikan rumusan tujuan tersebut dan strategi pencapaian tujuan tersebut dengan pihak-pihak yang relevan maka keberhasilan mencapai tujuan sebesar 5560%, dan jika peserta mendapatkan rekan kerja yang “berakuntabilitas” untuk bersama-sama mencapai tujuan tersebut maka kemungkinan keberhasilan peserta mencapai tujuan lebih dari 85 %.

Download Modul Disini

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel