Posisi Media dalam Pembelajaran - Ruang Pendidikan

Posisi Media dalam Pembelajaran

Bruner dalam Arsyad (2010:7-8) menyebutkan bahwa tingkatan modus belajar dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu: (1) pengalaman langsung (enactive),  (2) pengalaman piktorial gambar (iconic), dan (3) pengalaman abstrak (symbolic). Pada tingkatan pengalaman langsung atau enactive, pemahaman siswa terhadap materi dilaksanakan langsung. Artinya, pengalaman belajar siswa dilakukan dengan melakukan kegiatan secara nyata atau langsung, bukan melalui perantara atau benda tiruan. Pada tingkatan selanjutnya, yaitu pengalaman piktorial gambar atau iconic, pengalaman belajar siswa diperoleh dari menggali informasi dari indera penglihatan, baik dari gambar atau video tutorial. Pada tingkatan ketiga dalam modus belajar, yaitu pengalaman abstrak atau symbolic, proses belajar siswa dilakukan dengan memperoleh informasi dari indera pendengaran atau indera penglihatan, kemudian mencocokkan dengan apa yang telah dipelajari. Ketiga tingkatan ini saling berinteraksi dalam upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang baru. Hal ini sesuai dengan landasan teori penggunaan media yang dikemukakan oleh Edgar Dale dalam Sadiman, dkk (2010:8), yaitu teori kerucut yang dapat dilihat pada Gambar 2.4. 

Teori kerucut menurut Edgar Dale

Gambar 2.4 Teori kerucut menurut Edgar Dale (Sumber: Sadiman dkk, 2010:8) 

Menurut Edgar Dale tingkatan modus belajar dibagi menjadi bagian-bagian kecil. Pada Gambar 2.4 terlihat bahwa modus belajar menurut Bruner disesuaikan dengan modul belajar menurut Edgar Dale. Dalam penerapannya 2 (dua) tingkatan modus belajar tersebut dapat dilaksanakan berdampingan, karena memiliki fungsi dan tujuan yang sama.  Berdasarkan pengertian tersebut, maka penerapan media yang akan dikembangkan harus mampu mencakup semua tingkatan modus belajar. Pada tingkatan pertama, media harus mampu memberi pengalaman langsung kepada siswa tentang materi yang dijelaskan oleh guru serta pemahaman yang jelas akan materi tersebut. Pada tingkat selanjutnya, media harus memiliki gambar rangkaian tentang materi yang akan dipelajari, sehingga mampu membuat siswa paham tentang materi yang dibahas dengan menggali informasi dari gambar rangkaian tersebut. Tingkat ketiga dari modus belajar adalah symbolic, dalam tingkatan ini media harus mampu memberi pemahaman kepada siswa dengan mencocokkan antara instruksi guru dengan rangkaian yang ada pada media.   

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa tingkatan dalam modus belajar. Setiap tingkatan memiliki kelebihan dan kekurangan, maka semua tingkatan harus disatukan agar masing-masing tingkatan menjadi penyempurna bagi tingkatan yang lain dan proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Oleh karena itu ketiga tingkatan modus belajar harus terkandung dalam setiap pelaksanaan proses pembelajaran. Sebagai contoh, jika siswa ingin belajar membuat rangkaian penguat sinyal, maka siswa tersebut harus mempraktekkan membuat rangkaian penguat sinyal secara langsung. Pada tingkatan kedua atau iconic, materi rangkaian penguat dipahami dengan melihat gambar rangkaian pada media ajar. Selanjutnya pada tingkatan ketiga atau symbolic, siswa membaca atau mendengar kata “penguat sinyal” dan mencoba mencocokkannya dengan gambar rangkaian penguat sinyal yang ada pada media ajar. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel