Sejarah Bhinneka Tunggal Ika - Ruang Pendidikan

Sejarah Bhinneka Tunggal Ika

Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharmma Mangrwa adalah nama semboyan yang  dilontarkan secara lebih nyata masa Majapahit sebenarnya telah dimulai sejak masa Wisnuwarddhana, ketika aliran Budha Tantrayana  yangmencapai puncak tertinggi perkembangannya, karenanya Nararyya Wisnuwarddhana didharmmakan pada dua loka di Waleri bersifat Siwa dan di Jajaghu (Candi Jago) bersifat Buddha. Pada waktu itu kerajaaan singosari masih berdiri. inilah fakta bahwa Singhasari merupakan cikal bakal dari kerajaan majapahit yang melahirkan bhineka tunggal ika.
ruangpendidikan.net



Perumusan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharmma Mangrwa oleh Mpu Tantular pada dasarnya pernyataan daya kreatif dalam upaya mengatasi keanekaragaman kepercayaan dan keagamaan, sehubungan dengan usaha bina negara kerajaan Majapahit kala itu. Telah memberikan nilai-nilai inspiratif terhadap sistem pemerintahan pada masa kemerdekaan, telah sepenuhnya menyadari bahwa menumbuhkan rasa dan semangat persatuan itulah Bhinneka Tunggal Ika - Kakawin Sutasoma (Purudasanta) diangkat menjadi semboyan yang diabadikan lambang NKRI Garuda Pancasila. 

Dalam Kakawin Sutasoma (Purudasanta), pengertian Bhinneka Tunggal Ika lebih ditekankan pada perbedaan bidang kepercayaan juga anekaragam agama dan kepercayaan di kalangan masyarakat Majhapahit. Karena sempat terjadinya konflik.

Dalam lambang NKRI, Garuda Pancasila, pengertiannya diperluas, menjadi tidak terbatas dan diterapkan tidak hanya pada perbedaan kepercayaan dan keagamaan, melainkan juga terhadap perbedaan suku, bahasa, adat istiadat (budaya) dan beda kepulauan (antara nusa) dalam kesatuan nusaantara raya. 

Sesuai makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang dapat diuraikan bhinna-ika- tunggal - ika berarti berbeda-beda tetapi pada hakekatnya satu. Sebab meskipun secara keseluruhannya memiliki perbedaan tetapi pada hakekatnya SATU, satu bangsa dan negara Republik Indonesia. 

Pada tanggal 17 Oktober Semboyan Bhineka Tunggal Ika yang terletak dibawah kaki burung garuda diundangkan pada tanggal 28 Oktober 1951 tentang Lambang Negara. Bahwa usaha bina negara baik pada masa pemerintahan Majhapahit maupun pemerintahan NKRI berlandaskan pada pandangan sama yaitu semangat rasa persatuan, kesatuan dan kebersamaan sebagai modal dasar dalam menegakkan negara. 

Jadi, kita harus bangga bahwa Bhineka Tunggal Ika itu bukanlah suatu kebetulan/ hal yang lahir begitu saja. Mereka terinspirasi dari kerajaan Majapahit yang menguasai seluruh Nusantara. Dan berumur kurang lebih seabad. Hal ini sangat unik dari bangsa-bangsa Lain. 

Makna Bhineka Tunggal Ika
Frasa Bhinneka Tunggal Ika sendiri berasal dari bahasa Jawa Kuno dan dalam penerjemahannya sehari-hari kedalam Bahasa Indonesia akan bermakna "Berbeda-beda tetapi tetap satu".

Bila kata Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan per patah kata, maka akan berarti seperti berikut ini:

- Bhinneka yang bermakna "beraneka ragam" atau berbeda-beda.
- Tunggal yang bermakna "satu"
- Ika bermakna "itu"

Secara harafiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.

Kalimat Bhinneka Tunggal Ika sendiri merupakan kutipan dari sebuah kakawin Jawa Kuna yaitu kakawin Sutasoma, karangan Mpu Tantular semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14. Kakawin ini istimewa karena mengajarkan toleransi antara umat Hindu Siwa dengan umat Buddha.

Bhinneka Tunggal Ika adalah sebagai semboyan pada lambang negara Republik Indonesia. Semboyan tersebut , menurut Soepomo menggambarkan gagasan dasar yaitu menghubungkan daerah-daerah, pulau-pulau dan suku-suku bangsa diseluruh Nusantara. Jika dirujuk pada sumber asalnya, yaitu kitab sutasoma yang ditulis Empu Tantular pada abad XIV , semboyan tersebut merupakan seloka yang menekankan pentingnya kerukunan antar umat dari agama yang berbeda pada waktu lain. Dengan demikian, konsep Bhinneka Tunggal Ika merupakan kondisi dan tujuan kehidupan yang ideal dalam lingkungan masyarakat yang serba majemuk,multi etnik dan multi agama. oleh karena itu keberagaman kehidupan masyarakat kita bersifat alamiyah dan merupakan sumber kekayaan budaya bangsa yang sudah ada sejak zaman nenek-moyang kita 

Wujud aplikasi dalam kehidupan sehari-hari
Pemahaman nilai-nilai ke-Bhinneka Tunggal Ika-an harus dijadikan arahan, pedoman, acuan dan tuntunan bagi setiap individu dalam bertindak dan membangun serta memelihara tuntutan bangsa yang terintegrasi secara nasional demi keutuhan NKRI yang dikenal dengan masyarakat multikultural. Karena itu, implementasi atau penerapan nilai-nilai ke-Bhinneka Tunggal Ika-an  harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut ini contoh implemetasi pemakaian bhineka tunggal ika dalam kehidupan sehari-hari:

Mengutamakan kepentingan bersama dan negara daripada mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan
Menghormati HAM (Hak Asasi Manusia)
Menghargai pendapat orang lain
Dalam segi politik (agak keluar dari topik) misalnya, diarahkan untuk mampu menumbuh kembangkan rasa dan semangat kebangsaan yang selanjutnya dapat dijadikan landasan bagi pengembangan jiwa nasionalisme dan pembentukan jati diri bangsa. 
Jadi, politik itu bukanlah wahana yang mengutamakan kepentingan golongan partai saja.

Akibat jika tidak mengamalkan nilai-nilai bhineka tunggal ika 

1. Setiap suku atau ras selalu berselisih paham
2. Pasti ada kecenderungan bahwa suatu ras / golongan / suku memiliki kelebihan, daripada bangsa lain. Biasanya bangsa/suku/ras yang unggul selalu ingin menghancurkan suku/ras lain.
3. Selalu terjadi peperangan
4. Tidak ada alat pemersatu seperti bahasa indonesia seperti bahasa,bendera,lagu kebangsaan dll.
5. Adanya saling mengejek antar golongan.

Hikmah dari adanya kebhinekaan

1. Mempersatukan seluruh suku, ras, agama dan golongan 
2. Menghormati perbedaan yang ada
3. Sebagai lambang dan identitas negara dan bangsa
4. Tidak ada bangsa, suku, ras yang merasa dirinya unggul
5. Negara menjadi damai dan tentram
6. Tidak ada suku, ras, golongan yang dirugikan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel